GENERAL MEETING 2016, 0UT LOOK 2017 DAN RE-ORGANISASI BBPBL LAMPUNG

Dalam rangka mengevaluasi kinerja kegiatan telah dilakukan evaluasi bulanan  yang dihadiri oleh Pejabat Struktural, Pejabat Fungsional dan koordinator devisi. Untuk megevaluasi kinerja selama satu tahun  (2016) , pada tanggal 23 Januari 2016 Kepala BBPBL Lamung mengadakan general meeting yang dihadiri oleh seluruh staf dengan tujuan untuk mencermati apa yang telah  dilakukan selama tahun 2016, sehingga  bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan  tidak  lagi melakukan kesalahan yang sama pada tahun berikutnya  (2017).   Selain itu  hasil kerja yang telah dicapai adalah buah dari kerja keras seluruh staf, oleh karena itu pada kesempatan tersebut Bapak pimpinan mohon masukan  dan sarannya untuk  perbaikan  ditahun 2017.

gen1 gen3 gen4Dalam kesempatan itu juga dilakukan Re – organisasi atau penataan kembali  personil-personil terutama  di bidang teknis dibagi menurut komuditas yang ada, mengingat tahun 2017 kita harus melaksanakan program-program yang sangat besar,  seperti  revitalisasi KJA dan Off-shore.

Selanjutnya Kepala BBPBL Lampung menyampaikan bahwa general meeting  akan menjadi agenda rutin yang akan dilaksanakan 2 kali dalam 1 tahun yakni  di akhir dan pertengshsn tahun untuk dapat mengetahui kemajuan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan, disamping iu juga sebagai ajang silaturrahmi antara kepala balai dan seluruh  staf yang ada.

dsc_0012 dsc_0019 dsc_0020Yang lebih penting bagi semua karyawan untuk dapat memahami tugas pokok masing-masing, sehingga kita dapat bekerja sepenuh hati sesuai dengan tugas pokok tersebut.  Berdasarkan Peraturan MKP No. 6/PERMEN-KP/2014 Balai Besar Perikanan Budidaya Laut  adalah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jendral Perikanan Budidaya  berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, mempunyai tugas melaksanakan Uji Terap Teknik dan Kerja Sama, Pengelolaan Produksi, Pengujian Laboratorium, Mutu Pakan, Residu, Kesehatan Ikan dan Lingkungan, serta Bimbingan Teknis Perikanan Budidaya Laut.  (Va/Dau/utama)

BANTUAN BENIH IKAN, BIBIT RUMPUT LAUT DAN PAKAN IKAN PADA KUNJUNGAN KERJA KOMISI IV DPR RI DI PROPINSI LAMPUNG

Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, yang 2/3 wilayahnya merupakan wilayah lautan ingin mengembangkan perikanan budidaya laut.  Sehubungn dengan hal tersebut Senin, 19 Desember 2016 Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Bapak Herman Khaeron, Ibu Siti Hediati Soeharto, dan Bapak Daniel Johan melakukan kunjungan ke Propinsi Lampung.  Rombongan Komisi IV DPR RI berjumlah 17 orang terdiri dari Fraksi Demokrat, Golkar, Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, dan  Gerindra.Sesuai dengan ruang lingkup Komisi IV DPR RI adalah pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pangan tujuan Kunker Komisi IV DPR RI pada kesempatan itu adalah sebagai pengawasan atas program kerja Dinas Pertanian, Bulog, dan  Kelautan dan Perikanan di Propinsi Lampung.

dsc_0433 dsc_0441Kunjungan diawali di Kotamadya Metro untuk melihat jaringan Irigasi, dilanjutkan ke gudang Bulog dan ke PPI Lempasing. Kunjungan Komisi IV DPR RI di PPI Lempasing diterima oleh Bapak Handoro selaku Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan didampingi oleh Direktur Kawasan DJPB, Direktur Pelabuhan Perikanan DJPT, Direktur Akses Pasar dan Promosi PDSPKP, Kapusluh KP, pimpinan Satker terkait perikanan, dan pejabat Kadis Kelautan dan Perikanan Propinsi Lampung.

dsc_0446Dalam sambutannya Bapak Herman Khaeron menyampaikan bahwa dengan besarnya luas lautan Indonesia semestinya nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam akan sejahtera. Inilah yang menjadi perhatian Komisi IV DPR RI dan Menteri Kelautan dan Perikanan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan memberikan dukungan yang salah satunya memberikan payung yang memadai melalui UU No. 7 tahun 2016 tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam. Perlindungan dalam menghadapi permasalahan kesulitan melakukan usaha, dicontohkan biaya operasional terbesar bagi nelayan adalah minyak, dalam UU ada kemudahan yakni ada subsidi bahan bakar untuk nelayan. Mendorong ada asuransi nelayan, dan disampaikan pula oleh beliau bahwa nelayan , pembudidaya ikan dan petambak garam jangan hanya dijadikan objek produksi, untuk itu kepastian usaha dan permodalannya terus didukung untuk meningkatkan kesejahteraan.

dsc_0484 dsc_0450Pada kesempatan tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan menyampaikan bantuan program KKP tahun 2016 terdiri dari : Asuransi nelayan untuk 30 orang; alat penangkap ikan ramah lingkungan sebanyak 83 paket; kapal penangkap ikan 3 GT sebanyak 16 unit; bantuan pendidikan bagi 420 peserta didik; bantuan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat bagi 379 penyuluh; bantuan Ice Flake Machine kapasitas 1,5 ton bagi 3 kelompok; dan khusus dari DJPB bantuan excapator sebanyak 2 unit dan  bibit rumput laut Kuljar 1 ton bagi 4 kelompok, pakan ikan patin 2 ton bagi 2 kelompok, benih Bawal Bintang 10.000 ekor bagi 4 kelompok pembudidaya yang merupakan produk dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. (Va/Dau/utama)

BANTUAN INDUK / CALON INDUK IKAN LAUT

Dalam rangka mendukung kegiatan revitalisas KJA yang membutuhkan ketersediaan benih yang cukup banyak maka  harus diimbangi dengan  memperbanyak unit pembenihan ikan laut yang salah satunya di Kepulauan Seribu, Prop. DKI Jakarta

Sejalan dengan hal tersebut maka pda tanggal 16 Desember 2016 BBPBL Lampung  telah menyerahkan bantuan induk Kakap Putih sebanyak 29 ekor berat  antara 3 – 5 kg /ekor  kepada Pusat Budidaya dan Konservasi Laut, Balai Benih Ikan  Laut Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.

induk-1 induk-2Dengan bantuan ini diharapkan  unit pembenihan ikan laut di daerah  Kepulauan Seribu  dapat berkembang dan memproduksi  benih ikan Kakap putih secara berkesinambungan, sehingga kebutuhan benih khususnya di Kepulauan Seribu segera dapat diatasi dan program revitalisasi KJA dapat terlaksana dengan baik. (Va/Dau/utama)

induk-4 induk3

TEKNOLOGI INOVASI PASTA Nannochloropsis sp SOLUSI KETERSEDIAAN PAKAN ALAMI GUNA MENDUKUNG KESINAMBUNGAN PRODUKSI BENIH

Salah satu dari program utama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) adalah Program produksi benih bermutu 100 juta ekor dan calon induk unggul 1 juta ekor. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menetapkan target produksi benih  untuk BBPBL Lampung sebanyak 800.000 ekor benih dan calon induk unggul 3000 ekor untuk semua jenis ikan laut.  Untuk mendukung program Budidaya tersebut maka diperlukan suatu usaha budidaya perikanan yang semakin maju dengan didukung oleh suatu tekhnologi  inovatif.

Dalam usaha pembenihan ikan laut satu faktor yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilannya adalah ketersediaan pakan alami.  Pakan alami merupakan salah satu faktor pembatas bagi larva ikan, karena berada dalam lingkungan budidaya. Ketersediaan pakan sangat tergantung pada manusia yang memelihara baik dari jumlah, jenis maupun waktu pemberian. Nannochloropsis sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton,  yang dalam memproduksi secara massal dan kontinyu menghadapi beberapa kendala  yakni faktor lingkungan yang tidak dapat di kendalikan, seperti curah hujan tinggi, intensitas cahaya tinggi yang akan mempengaruhi kualitas air pada media pemeliharaan dan akan menyebabkan kematian Nannochloropsis sp. sehingga akan mengakibatkan kegagalan produksi benih.

Kendala tersebut dapat diatasi dengan menggunakan fitoplankton konsentrat tinggi (pasta) komersial (produksi Amaerika dan Jepang), namun harganya sangat mahal, mencapai 1 juta rupiah perliternya. Berdasarkan kendala–kendala tersebut  Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung sejak tahun 2012 telah menemukan inovasi teknologi  pembuatan fitoplankton pasta Nannochloropsis sp. yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi kesinambungan produksi benih. Teknologi ini merupakan pengembangan dan perbaikan dari teknologi yang telah ada, yang telah dilakukan sejak tahun 2002 sampai sekarang sehingga bisa aplikatif di masyarakat secara massal.

Uraian lengkap dan detail SOP, mencakup:

Tahapan kerja  dimulai dari proses kultur Nannochloropsis sp. massal – proses pengendapan dengan bahan koagulan – proses pengendapan – proses penyiphonan – proses pembilasan dengan air tawar – proses penyaringan – proses pengepakan – penyimpanan – penggunaan sebagai pakan alternatif, dll.

pasta-nano1

Tahapan kerja ;

  1. Kultur Nannochloropsis pada skala massal di volume 1 m2, kepadatan stater awal 5 – 6 juta sel /ml
  2. Dilakukan pemupukan dengan pupuk pertanian dengan dosis Urea 30 ppm, ZA 30 ppm dan TSP 10
  3. Pada ke 4 hari kultur (pada fase puncak) dilakukan proses koagulasi dengan memasukkan  bahan  koagulan yaitu NaOH atau soda api. Dosis NaOH yang digunakan 100 – 150 ppm.
  4. Dilakukan proses pengendapan selama 5- 6 jam
  5. kemudian dilakukan proses penyiphonan Natan Nannochloropsis yang telah mengendap    didasar bak.
  6. Dilakukan pembilasan dengan air tawar
  7. Terakhir dilakukan penyaringan dengan menggunakan kain saring
  8. Pasta Nanno dikemas dan siap digunakan

Diawali dengan produksi Nata de Nanno (Nannochloropsis sp. konsentrat tinggi/Nanno semi gel) tahun 2002 dan diterapkan untuk masyarakat mulai tahun 2005 baik disekitar Lampung dan luar  Lampung.  Kemudian dilakukan perbaikan teknologi pembuatan konsentrat tinggi menjadi pasta Nanno melalui kegiatan perekayasaan dan produksi aplikatif sampai dengan tahun 2012 dan pada tahun 2014 lolos sebagai bahan rekomendasi teknologi Litbang KKP. Pemanfaatan pasta Nanno dimanfaatkan disekitar Lampung oleh para petambak untuk memicu pertumbuhan fitoplankton dan pakan zooplankton. Sedangkan diluar Lampung telah dimanfaatkan oleh Lemigas dan Litbang Jakarta dan divisi research IPB  sebagai bahan baku Biofuel. Digunakan juga sebagai bahan untuk penelitian oleh mahasiswa di Yogyakarta, Malang, Riau, Palembang, Bandung dan Jakarta. Biaya produksi dari mulai kultur sampai menjadi  1 kilogram pasta Nannochlorpsis sp. adalah Rp. 250.000.- (Va/Emy).

STATUS PRODUKSI DAN DISTRIBUSI BIBIT RUMPUT LAUT KULTUR JARINGAN

Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama perikanan budidaya, yang menjadi andalan dalam peningkatan produksi, perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat pesisir.Untuk mendukung peningkatan produksi rumput laut nasional dan tetap menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan terobosan dengan menggunakan teknologi kultur jaringan dan pengembang biakkan rumput laut melalui spora.

rumla1 rumla2 rumla3Pengembangan bibit rumput laut E. cottonii melalui kultur jaringan adalah bagian dari upaya untuk menyediakan bibit rumput laut yang berkualitas dalam jumlah yang cukup. Sejak tahun 2013 Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan SEAMEO Biotrop telah memproduksi bibit E. cottoniikultur jaringan dan telah didistribusikan ke beberapa sentra budidaya rumput laut di Indonesia.

rumla4 rumla5 rumla6Pada Tahun 2106 DJPB telah menetapkan target produksi bibit Rumput Laut Kultur Jaringan untuk BBPBL Lampung sebanyak 20.000 kg.  Sampai dengan akhir September 2016 target produksi telah tercapai 13.183 kg atau sebesar 65,9 % dan telah didistribusikan ke beberapa sentra budidaya Rumput Laut di Indonesia, seperti disajikan pada Tabel berikut :

foto-tabel-rumla3

1 2 3 5