TEKNOLOGI INOVASI PASTA Nannochloropsis sp SOLUSI KETERSEDIAAN PAKAN ALAMI GUNA MENDUKUNG KESINAMBUNGAN PRODUKSI BENIH

Salah satu dari program utama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) adalah Program produksi benih bermutu 100 juta ekor dan calon induk unggul 1 juta ekor. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menetapkan target produksi benih  untuk BBPBL Lampung sebanyak 800.000 ekor benih dan calon induk unggul 3000 ekor untuk semua jenis ikan laut.  Untuk mendukung program Budidaya tersebut maka diperlukan suatu usaha budidaya perikanan yang semakin maju dengan didukung oleh suatu tekhnologi  inovatif.

Dalam usaha pembenihan ikan laut satu faktor yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilannya adalah ketersediaan pakan alami.  Pakan alami merupakan salah satu faktor pembatas bagi larva ikan, karena berada dalam lingkungan budidaya. Ketersediaan pakan sangat tergantung pada manusia yang memelihara baik dari jumlah, jenis maupun waktu pemberian. Nannochloropsis sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton,  yang dalam memproduksi secara massal dan kontinyu menghadapi beberapa kendala  yakni faktor lingkungan yang tidak dapat di kendalikan, seperti curah hujan tinggi, intensitas cahaya tinggi yang akan mempengaruhi kualitas air pada media pemeliharaan dan akan menyebabkan kematian Nannochloropsis sp. sehingga akan mengakibatkan kegagalan produksi benih.

Kendala tersebut dapat diatasi dengan menggunakan fitoplankton konsentrat tinggi (pasta) komersial (produksi Amaerika dan Jepang), namun harganya sangat mahal, mencapai 1 juta rupiah perliternya. Berdasarkan kendala–kendala tersebut  Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung sejak tahun 2012 telah menemukan inovasi teknologi  pembuatan fitoplankton pasta Nannochloropsis sp. yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi kesinambungan produksi benih. Teknologi ini merupakan pengembangan dan perbaikan dari teknologi yang telah ada, yang telah dilakukan sejak tahun 2002 sampai sekarang sehingga bisa aplikatif di masyarakat secara massal.

Uraian lengkap dan detail SOP, mencakup:

Tahapan kerja  dimulai dari proses kultur Nannochloropsis sp. massal – proses pengendapan dengan bahan koagulan – proses pengendapan – proses penyiphonan – proses pembilasan dengan air tawar – proses penyaringan – proses pengepakan – penyimpanan – penggunaan sebagai pakan alternatif, dll.

pasta-nano1

Tahapan kerja ;

  1. Kultur Nannochloropsis pada skala massal di volume 1 m2, kepadatan stater awal 5 – 6 juta sel /ml
  2. Dilakukan pemupukan dengan pupuk pertanian dengan dosis Urea 30 ppm, ZA 30 ppm dan TSP 10
  3. Pada ke 4 hari kultur (pada fase puncak) dilakukan proses koagulasi dengan memasukkan  bahan  koagulan yaitu NaOH atau soda api. Dosis NaOH yang digunakan 100 – 150 ppm.
  4. Dilakukan proses pengendapan selama 5- 6 jam
  5. kemudian dilakukan proses penyiphonan Natan Nannochloropsis yang telah mengendap    didasar bak.
  6. Dilakukan pembilasan dengan air tawar
  7. Terakhir dilakukan penyaringan dengan menggunakan kain saring
  8. Pasta Nanno dikemas dan siap digunakan

Diawali dengan produksi Nata de Nanno (Nannochloropsis sp. konsentrat tinggi/Nanno semi gel) tahun 2002 dan diterapkan untuk masyarakat mulai tahun 2005 baik disekitar Lampung dan luar  Lampung.  Kemudian dilakukan perbaikan teknologi pembuatan konsentrat tinggi menjadi pasta Nanno melalui kegiatan perekayasaan dan produksi aplikatif sampai dengan tahun 2012 dan pada tahun 2014 lolos sebagai bahan rekomendasi teknologi Litbang KKP. Pemanfaatan pasta Nanno dimanfaatkan disekitar Lampung oleh para petambak untuk memicu pertumbuhan fitoplankton dan pakan zooplankton. Sedangkan diluar Lampung telah dimanfaatkan oleh Lemigas dan Litbang Jakarta dan divisi research IPB  sebagai bahan baku Biofuel. Digunakan juga sebagai bahan untuk penelitian oleh mahasiswa di Yogyakarta, Malang, Riau, Palembang, Bandung dan Jakarta. Biaya produksi dari mulai kultur sampai menjadi  1 kilogram pasta Nannochlorpsis sp. adalah Rp. 250.000.- (Va/Emy).

STATUS PRODUKSI DAN DISTRIBUSI BIBIT RUMPUT LAUT KULTUR JARINGAN

Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama perikanan budidaya, yang menjadi andalan dalam peningkatan produksi, perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat pesisir.Untuk mendukung peningkatan produksi rumput laut nasional dan tetap menjadi produsen rumput laut terbesar di dunia, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan terobosan dengan menggunakan teknologi kultur jaringan dan pengembang biakkan rumput laut melalui spora.

rumla1 rumla2 rumla3Pengembangan bibit rumput laut E. cottonii melalui kultur jaringan adalah bagian dari upaya untuk menyediakan bibit rumput laut yang berkualitas dalam jumlah yang cukup. Sejak tahun 2013 Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan SEAMEO Biotrop telah memproduksi bibit E. cottoniikultur jaringan dan telah didistribusikan ke beberapa sentra budidaya rumput laut di Indonesia.

rumla4 rumla5 rumla6Pada Tahun 2106 DJPB telah menetapkan target produksi bibit Rumput Laut Kultur Jaringan untuk BBPBL Lampung sebanyak 20.000 kg.  Sampai dengan akhir September 2016 target produksi telah tercapai 13.183 kg atau sebesar 65,9 % dan telah didistribusikan ke beberapa sentra budidaya Rumput Laut di Indonesia, seperti disajikan pada Tabel berikut :

foto-tabel-rumla3

LAHIRNYA KOMODITAS BARU “BECANTANG”

1a 2a 4a 5aSelasa dini hari, 04 Oktober 2016 telah lahir komoditas baru di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung yang  diberi nama BECANTANG. Nama ini disematkan sesuai dengan silsilahnya yang berasal dari perkawinan induk betina Kerapu Bebek dan induk jantan Kerapu Macan sehingga melahirkan BEKCAM yang dipelihara hingga tumbuh menjadi induk betina matang telur sebanyak 3 ekor. Induk betina Bekcam dengan berat 5-7 kg, distriping menghasilkan lebih kurang 1,3 juta telur.  Pada saat yang bersamaan Kerapu Kertang jantan  yang telah matang gonat dengan berat berkisar 60 kg juga distripping  dan dilakukan pemijahan buatan,  sehingga setelah menunggu lebih kurang 9 jam maka menetaslah telur-telur tersebut yang hasilnya diberi nama BECANTANG (Bebek, Macan dan Kertang). (Dau/Va/utama)

6a 7a 8a 9a 10a

STATUS BANTUAN BENIH IKAN LAUT KE MASYARAKAT OLEH BBPBL LAMPUNG

bb1 bb2Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat di bidang kelautan dan perikanan, perlu dilakukan kegiatan pemberian bantuan langsung ke masyarakat berupa benih, calon induk, induk dan bibit rumput laut kultur jaringan.  Upaya  pelaksanaan bantuan langsung ke masyarakat didasarkan atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 22/PERMEN-KP/2015 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat di Bidang Kelautan dan Perikanan.

 

User comments

bb5Menindak lanjuti Permen KP tersebut, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) membuat program produksi benih bermutu 100 juta ekor  dan induk unggul 1 juta ekor yang dilakukan oleh UPT dan UPTD yang dibiayai oleh APBN 2016, dimana pelaksanaan bantuan benih ditujukan pada pokdakan atau penebaran kembali (restocking). BBPBL Lampung sebagai UPT DJPB mendapat target kinerja 400.000 ekor benih dan 3.000 ekor induk/calon induk. Sesuai dengan hasil kesepakatan penetapan komoditas unggulan pada pertemuan workshop perencanaan kegiatan produksi induk unggul dan benih bermutu tahun 2016, komoditas unggulan  yang telah disepakati untuk BBPBL Lampung adalah Ikan Hias (Nemo, Blue Devil), Kerapu Bebek, Kerapu Macan, Kakap Putih, Kakap Merah, Bawal Bintang, Cobia, Teripang, Kuda Laut, Napoleon dan Rumput Laut.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

bb6
bb7   Sampai dengan  September 2016, BBPBL Lampung telah merealisasikan bantuan benih  ikan sebanyak 583.044ekor atau sebesar 145,76 % dari target kinerja dengan rincian sebagai berikut :

data-bantuan-benih-per-september-page-001

 

 

KUNJUNGAN DIRJEN PERIKANAN BUDIDAYA DAN DEPUTI V KANTOR STAF PRESIDEN KE BBPBL LAMPUNG

dirjen-1 dirjen2 dirjen3Usaha budidaya laut telah menjadi sektor bisnis yang dilirik banyak pihak karena sangat menguntungkan, terutama pada beberapa tahun terkhir ini yang sangat prospektif dan potensial menjadi sentral ekonomi nasional mengingat ketersediaan lahan yang masih sangat luas. Sehubungan dengan hal tersebut pada hari Kamis, 15 september 2016 Dirjen Perikanan Budidaya Bapak Dr. Slamet Subiyakto, M.Sc beserta Bapak M. Riza Damanik dari kantor staf Presiden, sebagai tenaga ahli utama kedeputian V bidang kajian dan pengelolaan isu politik, hukum, pertahanan dan keamanan dan HAM strategis beserta rombongan melakukan kunjungan ke Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung dalam rangka melihat potensi BBPBL dan memotivasi pegawai.

dirjen4 dirjen5 dirjen6 dirjen7Dalam pengarahannya Dirjen Perikanan Budidaya menyampaikan bahwa terkait dengan efisiensi anggaran kedepan kegiatan di UPT  focus pada kegiatan yang besar, seperti percontohan budidaya ikan pada lepas pantai (off shore) untuk Kakap Putih dari pembenihan, produksi dan pengolahan; tidak perlu banyak lokasi, tapi focus kepada kawasan; pelayanan kepada masyarakat; kegiatan perekayasaan; pendampingan teknologi dan memperkuat laboratorium Keskanling. Kegiatan produksi dan aset-aset produksi akan di kerjasamakan dengan Perusahaan Perikanan Indonesia (Perindo) dengan model bagi hasil untuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Komoditas yang dapat dikembangkan adalah Kakap Putih, karena dapat dibudidayakan di Tambak dan di laut, pangsa pasarnya bagus, terkenal dengan ikan daging putih untuk pangsa pasar Eropa serta dapat dijuaal dalam kondisi hidup dan mati. Selain itu melanjutkan pengembangan rumput laut kultur jaringan dan meningkatkan pakan ikan mandiri. Bapak Dirjen PB mengharapkan dengan kehadiran staf Presiden pada kesempatan tersebut, UPT DJPB akan lebih mendapatkan perhatian dan peningkatan.

dirjen8 dirjen9 dirjen10 dirjen11Bapak M. Riza Damanik dari kantor staf Presiden, menyampaikan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan diuntungkan karena satu dari dua program ekonomi yang menjadi andalan pemerintah adalah perikanan. Terkait dengan hal tersebut tanggal 22 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Inpres No. 7 tahun 2016 tentang percepatan pembangunan industri perikanan nasional dengan 3 ((tiga) kerangka kerja yakni : meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik nelayan, pembudidaya, pengolah maupun pemasar hasil perikanan, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan devisa negara.

Dikatakan oleh M. Riza Damanik ada 2 (dua) tantangan dalam industri perikanan : (1) secara faktual lahan-lahan budidaya baru termanfaatkan sebesar 7 % dan dalam kondisi idol. Untuk itu perlu inovasi untuk melakukan revitalisasi terhadap tambak-tambak yang ada serta mengoptimalkan lahan-lahan yang potensial seperti mina padi, perairan umumn, dan perairan laut yang saat ini pemanfaatannya masih sangat rendah; (2) Produktivitas lahan per satuan Ha sangat rendah, dan agar produktivitasnya meningkat perlu ada pengetahuan. Contoh kasus di Danau Toba Sumatera Utara, masyarakat mengelola  lahan 95 % lahan namun produktivitasnya hanya 35 %, sedangkan swasta mengelola lahan sebesar 5 %, namun produktivitasnya dapat mencapai 65 %. Hal ini menjadi PR bagi perekayasa untuk melakukan inovasi teknologi. Beliau mengharapkan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung dapat menghasilkan inovasi teknologi tersebut, sehingga  tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang yang akhirnya menjadi mahal.

dirjen12 dirjen13 dirjen14Disampaikan oleh beliau bahwa masa depan pemenuhan pangan di Indonesia melalui perikanan budidaya karena mempunyai kemewahan yang bisa di explorasi/exploitasi dan dapat melakukan lompatan-lompatan. Diakhir sambutannya beliau menyampaikan bahwa dengan adanya efisiensi anggaran produktivitas tetap harus meningkat.

dirjen15 dirjen16Acara dilanjutkan dengan melihat kegiatan di lapangan, yakni ke hatchery larva, pendederan, penggelondongan, Bak Induk, hatchery Kuda Laut, Ikan Hias dan laboratorium rumput laut kultur jaringan. Bapak Dirjen dan staf Ahli Presiden sangat puas melihat banyaknya larva dan benih-benih ikan dalam bak. Dalam kegiatan tersebut Bapak M. Riza Damaniksangat terkesan dan antusias ketika melihat ikan Cobia mulai dari larva, benih hingga Induk, terlebih ketika Ka. BBPBl Lampung menyampaikan bahwa Ikan Cobia mempunyai pertumbuhan sangat cepat yakni  dalam 1 tahun dapat mencapai ukuran 4-6 kg, paket teknologi pembenihan dan pembesaran sudah tersedia dan pembesarannya dapat pula dilakukan di tambak dengan kadar garam s/d 15 ppt. (Va/Utama)

1 2 3 5